Lembar Rindu Untuk Ibu – Spesial Hari Ibu

Di kata bijak, kata mutiara, puisi 81 views

Katakan pada mentari, aku masih disini bu. Silahkan siapkan panas panggangan untuk siang ini. Kan ku hadapi. Jangankan panas mentari, panas hati sebab amarahmu telah ku kantongi setiap hari. Ya, setiap hari, setiap saat, setiap waktu mata melihat, yang kau indera hanya salahku, yang kau dengar hanya kesalahanku, dan yang kau rasa hanya ketidakbisaanku. Aku benarkan segala yang engkau tuduhkan, meski sebenarnya bukan itu. Aku anggukkan yang kau ocehkan, meski ku tahu pelakunya bukan aku. Aku iyakan segala yang kau perintahkan, meski ku tahu aku tak mampu. Aku turuti yang kau katakan, meski hatiku berontak tuk katakan tidak. Aku lakukan segala suruhmu, bagai pembantu terhadap majikan, aku laksanakan. Tapi dirimu tak pernah menganggap atas apa yang ku perbuat. Kita dekat, tapi bagai ada sekat.

Apa itu bu? Sekat apa yang membatasinya? Jika kau tahu, bolehkahku juga mengetahuinya? Adakah rahasia di balik rahasia yang kau tutupi dengan rahasia pula? Aneh, ada keganjilan yang ku rasakan atas perlakuan yang kau limpahkan, bu. Apa kertas yang bertuliskan akta kelahiran itu bohong? Mengapa tertera namamu sebagai wanita mulia yang melahirkanku? Jika memang benar begitu adanya, dan jika memang benar surga-Nya di bawah telapak kakimu, tak pantaskah surga itu ku dapatkan saat segala bakti telah aku lakukan?

Gambar anak mencium tangan Ibu

***

Hujan masih bertandang di pelataran sudut kelopakku, basah di beranda pipi kanan kiri tak lagi ku peduli. Di sudut langit,  petir menghajar mendung-mendung yang bergumul dengan pecut cahaya yang di lemparknnya.

“Kasihan sang mendung, pasti cambukan petir lebih sakit dari cambukan penjalin.”
 Dari sudut tebing ini, lukisan alam telah beriku pelajaran. Di atas langit masih ada langit, dan sakit yang ku rasakan masih ada yang lebih sakit lagi. Pasti. Meski bukan mendung itu yang berkata, tapi ku yakin di luar sana, aku masih menjadi satu di antara orang yang beruntung. Dan harus ku bersyukur atas ini. Aku tak boleh mengeluh, tidak. Aku tak boleh berprasangka buruk pada ibu, juga pada-Nya.

 “Aku janji mendung, aku akan selalu menemanimu dalam sakit. Kita akan bersama-sama merasakan cambukan. Dan aku akan selalu mengunjungimu saat semua itu terjadi. Jangan salah paham, mendung. Aku datang bukan untuk membandingkan mana yang lebih sakit, cambukan petir atau cambukan ibu. Tapi aku datang untuk menemanimu dalam duka, dukamu juga dukaku.

Mengingatkanku untuk selalu mengingat, ada yang lebih jahat dari yang sudah jahat. Ya, aku tahu itu. Dan ibuku, dia tak jahat mendung. Itu hanya bentuk dari kasih sayangnya yang lain. Hanya saja, penyampaiannya berbeda. Begitu juga dengan petir, mendung. Ia sebenarnya juga menyayangimu, hanya saja ia khawatir jika hujan yang ‘kan kau bawa, jatuh di lembah yang salah nantinya. Makanya kau di cambuk. Hahaha.”

Aku tertawa, ya aku tertawa. Tertawa lepas, ku kandaskan segala kesedihan dan air mata yang menggantung di sudut kelopakku, ku tinggalkan segala genangan duka yang sempat ku berkubang di dalamnya. Aku tak ingin larut seperti garam dalam air, tapi aku ingin menjadi airnya. Tak peduli gula, garam, ataupun apa. Akan ku larutkan semuanya.

Ku hirup nafas kelegaan yang perlahan merasuk di sele-sela dadaku. Benar-benar hembusan kedamaian yang ku rasakan, damai yang tak pernah ku dapatkan darinya yang selama ini ku panggil ibu. Alam lah yang selalu ku ajak bicara, alam lah yang selalu mendengarkan keluh kesahku, setia menghibur dan menemaniku setiap waktu, dalam keadaan apa dan bagaimanapun. Semuanya, kini ku tumpahkan di pangkuan alam, bersama mega, mendung, hujan, pohon, langit dan semuanya yang bisa ku indra di depanku. Sebab tak ada bahu untukku bersandar mengutarakan pengaduan, tak ada pelukan kasih sayang untuk menenangkan kekacauan, tak ada belaian lembut yang menyelimut dalam takut. Aku sendiri, benar-benar sendiri. Dan alamlah teman sejatiku, salain pena dan lembar buku.

***

Aku tak pernah berniat pergi meninggalkan ibu, aku hanya menghibur diri di pangkuan alam. Sedang haribaan ibu, dialah muara kasih sayang yang sebenarnya. Dan aku tak pernah lelah untuk mencari, menyusuri setiap alirannya, sampai ku temukan muara itu. Maski di hulu ini, belum ku jumpai. Bukan tak mungkin, dan ketidakmungkinan itu tidak ada. Aku yakin Tuhan menciptakan seorang hawa dengan segala kelembutan dan kasih sayangnya. Jika ibu tak menunjukkannya padaku, bukan berarti dia tak punya. Aku yakin, sejuta bahkan segudang kasih sayang dan perhatian telah di simpannya. Mungkin dia menuggu saat yang tepat untuk mencurahkannya padaku. Seperti halnya Tuhan, Dia tahu apa yang hamba-Nya mau, hanya saja dia menunggu tuk mengabulkannya. Bukankah ridhollahi fi ridhol walidaini?. Jika memang begitu, bagaimana Tuhan akan mengabulkan setiap doa yang ku rajut dalam sujudku, jika ibu saja tak restu. Harusnya aku tahu, ya tahu diri. Ingat begini, saat sadar. Jika tidak, semua terbalikkan.

Baru saja sadar terikrar, tiba-tiba mataku hujan tak terbendungkan. Rintik gerimis bergantian jatuh perlahan. Di seberang jalan, di teras rumah yang tak terlalu megah, seorang ibu dengan buah hatinya saling bercanda, sungguh seperti ada sembilu yang di hujamkan tepat di jantung hatiku.

“Apakah dulu aku juga merasakan itu, jika ya, sekarang aku sampai lupa rasanya bagaimana di belai bunda?”

Andai waktu bisa di putar kembali, aku ingin menghentikan jarumnya di masa kecilku, agar aku bisa selalu dalam kasih sayang ibu. Hemmmm, andai. Tapi tak bisa, meski jarum waktu berputar dan singgah di angka yang sama, yang terlewat sejatinya tak akan terulang. Ku sibak tirai hujan di pintu kelopak mataku, aku tersenyum getir. Berusaha tegarkan pikir, berlapang dada menengadahkan tangan jalani takdir.

“tapi takdir bisa di rubah, dan aku akan merubah itu.”
“siapa bilang?”
“aku!”
“aku?”
“kau tak kan selamanya bertandang dalam duka, lihatlah pelangi itu!” Aku mendongak menatap keangkuhan langit yang tegak. Ya, ku dapati pelangi di sana.

“Perhatikan pelangi itu, bukankah ia hadir setelah mendung dan hujan? Jika kau berduka, anggap saja mendung. Jika kau menangis, anggap saja hujan. Dan bahagiamu adalah pelangi yang akan datang di kemudian. Tunggu saja waktu yang berkata, tak usah kau meminta Tuhan untuk mengulang skenario takdir yang telah di kun fayakunkan. Itu urusan-Nya, bukan urusanmu. Sedang tugasmu adalah berusaha.”

Menundukku dalam tunduk dan takhluk akan kata yang menggema di telinga, entah dari mana dan siapa yang mengatakannya. Hatiku hanya sami’na wa atho’na, dan meyakinkan tuk berkata ya.
“semoga benar.” Kataku terikrar dari bibir yang bergetar. Aku menggigil setelah sedari tadi hujan-hujanan. Bukan asyik bermain air seperti teman-teman, tapi habis dari mengantarkan jahitan
Malamnya aku demam, tak ada yang tahu, tak juga ibu. Jangankan menyentuh kening, meyapaku saja itu tak biasa. Terkecuali untuk hal yang di rasa penting. Aku tidak menuntut itu, aku yakin ibu menyayangiku dalam diamnya, aku yakin ibu tak bisa mengungkapkan itu sebab sayangnya terlampau besar. Dan kata tak bisa mewakilkan. Aku tersenyum sendiri, sebelum akhirnya berangkat tidur.

***

“Tuhan, hari ini adalah hari ulang tahunku , 22 Desember. Sewindu sudah di bumi-Mu aku berpijak. Tuhan, aku tak berharap ucapan selamat ulang tahun, kado ataupun kue dengan lilin menyala di atasnya. Aku juga tak berharap ada pesta. Aku hanya ingin menyampaikan SELAMAT HARI IBU di hari ini. Aku ingin ibu tahu, betapa dia ku rindu.  Betapa aku merindukannya, merindukan sosok ibu seperti masa kecilku dulu. Di timang, di sayang, di perhatikan, kembalikan dia padaku Tuhan, ibu yang sekarang tiada ku kenal, dimana dia kau sembunyikan Tuhan?  Baiklah, aku tak memaksa. Jika kau tak mau beritahuku, aku titip ini tuhan. Segala rinduku padanya telah ku tulis dalam lembar ini, Tuhan sampaikan ini padanya.” Ku terbangkan kertas bertuliskan rindu pada ibu bersama balon warna ungu, perlahan terbang, tinggi, tinggi dan semakin tinggi. Hingga jauh, dan pandangku tiada lagi bisa menyentuh. Kepada langit ku katakan, “Bu, selamat hari ibu. Maafkan daku yang belum bisa seperti yang kau mau.”

***
………………..
Maafkan diriku bunda
Kadang tak sengaja ku membuat remah hatimu terluka
Kuingin kau tahu bunda
Betapa kumencintaimu lebih dari segalanya
……………
(muara kasih bunda)
By: Hida Koma
1001 Kata Mutiara Tentang Cinta Penuh Makna
1001 Kata Mutiara Tentang Cinta Penuh Makna
1001 Kata mutiara tentang cinta penuh makna
4 Puisi Cinta Ungkapan Hati Sedih Banget
4 Puisi Cinta Ungkapan Hati Sedih Banget
4 Puisi cinta yang sedih banget ini
Kata Kata Bijak Tentang Guru dan Murid
Kata Kata Bijak Tentang Guru dan Murid
Kata Kata Bijak Guru dan Murid misalnya
Inilah Kata Cinta Romantis Paling Bijak
Inilah Kata Cinta Romantis Paling Bijak
Kata cinta romantis paling bijak ini adalah rangkain
Baca Juga×

Top
%d blogger menyukai ini: