CERMIN – HUJAN TAK TERBENDUNG

Di cerpen 19 views

Tak dapat ku bendung hujan yang telah turun. Gerimis pun datang tanpa ku undang. Entah apa yang ku bayangkan, dan ku biarkan menari di benakku. Aku tak mampu mendefinisi. Tak dapat ku urai arti demi arti dari saat ini. Akupun bertanya, sedang tanyaku tak berjawab. Aku menanti, dan aku menunggu. Sedang penantianku hanya berujung semu.

Ku seka mata air dari  air mata yang mrebes mili menuruni pipi.  Membelah senyum kian manyun
sedari tadi yang ku sunggingkan. Dan aku menangis, menangis sejadi-jadinya. Sesenggukan pun tak dapat terhindarkan. Bayangan yang tadi berhasil menjatuhkan hujan di mataku kini kembali beraksi menari, berlaga di pelupuk mataku. Kembali tumpah ruah mata air air mataku, bagai tak terbendung. Lambat laun, semakin lama semakin mengalun. Dan senggak-sengguk semakin memperjelas suaranya.

Aku diam, Namun sejenak kemudian, bibirku berucap  tak mampu ku tahan. Bicara tanpa baca, dan tanpa titik koma.

Gambar cerita mini karya Hida Koma

“ beberapa hari ini aku tak bisa masuk sekolah pak, bu.  Aku mohon izin dulu. Tapi bapak ibu, tak usah khawatir. Aku akan kembali. Tak kan ku tanggalkan janji pengabdian yang baru saja ku mantapkan. Aku akan pulang pak, bu. Aku akan kembali. Tapi setelah semuanya selesai. aku pergi bukan untuk melarikan diri dari kenyataan di depanku. Aku hanya ingin menenangkan diri. Ku harap bapak ibu sekalian mengizinkan”. Kembali tangisku tumpah. Kali ini dipelukan bu Syifa, juga bu Mila. Sedang pak andi, pak Roy, Pak Dimas merekapun prihatin mendengar yang ku katakan.
“ tak adakah pilihan lain, selain pergi bu?” tanya pak Roy.

“Mungkin ada pak, tapi untuk sementara saya harus menenangkan diri dulu. Pikiran saya sedang kacau pak, untuk mengambil keputusan disaat kalut seperti ini saya rasa kurang tepat”. Jawabku singkat.

Karena waktuku tidak banyak, aku mohon diri sebentar untuk berpamitan dengan anak-anak. Sebulan terakhir ini, aku sudah terbiasa dengan mereka. Walaupun kadang ada yang menyebalkan, susah dikasih tahu, bandel dan sebagainya. Tapi, celotehnya, candanya, bersamanya pasti akan ku rindukan.
 Dari luar Sayup-sayup kudengar bapak ibu guru berkomentar tentangku, ada yang menyayangkan, ada yang mendukung. Walaupun belum lama, tapi mereka telah menjadi keluarga keduaku setelah ayah ibu. Dan sekolah menjadi rumah keduaku. Berat rasanya meninggalkan mereka. Tapi mau bagaimana lagi, aku harus pergi. Harus! Tak bisa di tunda lagi.

Usai berpamitan dengan bapak ibu, akupun mohon diri. Tapi mohon diri kali ini, lain dari mohon diri biasanya saat akan pulang. Sebab besok aku tak datang. Besoknya lagi juga tak datang. Dan lusanya juga masih belum datang.

Sempat ku di tanya akan pergi kemana, aku sempat bingung. Sebab tak ada tempat yang pernah ku singgahi selain solo. Dan untuk sementara ini, mungkin tempat itulah tujuanku singgah. Walau sebenarnya, ada ragu di hati untuk memijaki. Tapi aku berusaha memantapkan diri. Meyakinkan nurani.

Oh ya, ada yang terlupa. Pak Noe. Dialah yang telah memberiku motivasi sekaligus inspirasi dalam menjalani tugas dan mengembangkan bakat juga minat di karya-karyaku. Tak etis bila tak berpamitan. Akupun segera meluncur ke sekolah tempatnya mengajar. Beruntung beliau ada di tempat. Dan alhamdulillah, waktu masih memberiku kesempatan untuk berjabat.

“pak, terima kasih telah mengajariku banyak hal yang tak bisa kusebutkan satu persatu. Terima kasih telah menjadi tongkat di kepincangan pengetahuanku. Terima kasih telah menjadi penambal di lubang kebodohanku. Tanpa bapak, mungkin aku saat ini masih belum tahu. Mungkin saat ini, karyaku masih membatu tanpa sedikitpun orang tahu keberadaannya. Dan bapak telah membantuku menggali dan mencairkannya. Tapi sekarang, saya mohon maaf pak, untuk saat ini dan beberapa hari kedepan saya absen dulu dari publikasi karyaku. Aku pamit pergi pak” kataku dalam tunduk kepala yang semakin tak mampu untukku mendongakkannya.

“ kenapa? Ada masalah? Tenang semuanya pasti bisa diselesaikan. Cerita dong.” Pintanya
“ saya tahu pak, tapi saat ini saya rasa bukan saatnya untuk cerita. Mungkin lain kali, saya akan berbagi. Saya janji. Saya akan kembali setelah saya siap untuk hal ini”. Jawabku menegaskan.
Tumpah tangisku tiada bisa ku bendung. Walau sekeras apapun ku tahan, akhirnyapun tumpah juga. Dan didepan pak Noe aku tak bisa banyak bicara. Mataku lah yang bercerita.

Usai berpamitan, aku segera melenggang. Langkah kakiku pelan, kemudian ku percepat. Takut yang ku yakinkan menjadi keraguan. Aku pergi kali ini. Benar-benar pergi.

Dengan jasa tukang ojek, sampailah aku di terminal. Batu pijakan pertama untuk melompat lebih jauh. Dan kembali tangisku tumpah. Sampai orang-orang di sekitarku prihatin. Aku tak peduli dengan tatapan mata mereka yang mungkin bertanya “mengapa?”. Aku masih dengan tangisku mengguyur terik mentari yang menyengat pipiku. Aku masih terhanyut pada suasana hati yang tak ku mengerti.
Satu, dua bus berlalu dari hadapku. Ku acuhkan. Tiga empat bus lewat, tak ku hiraukan. Aku diam. Mematung diterminal. Bus kelimapun berangkat. Aku masih tak berminat.

“Adek, mau kemana?” tanya seorang bapak yang sepertinya petugas di terminal ini. Aku mendongak dari tunduk yang mematungku tadi. ku tatap bapak tadi seraya berkata ”aku tak tahu pak”. Bapak tadi mengernyitkan dahinya, tanda tak mengerti dengan yang baru saja ku katakan. Akupun kembali menunduk. Dengan kepala menunduk, mukaku kembali ku tekuk.

“ Pengecut! Kau pengecut! dunia akan menertawakan kebodohanmu. Dengan pergi, apa semuanya bisa teratasi. Apa dengan begini masalah yang kau hadapi kan usai sendiri? Pengecut! kau pengecut. takut akan kenyataan didepanmu. Takut akan kenyataan yang menyimpang dari harapmu. Kau pengecut! sekali lagi pengecut”. aku tersentak dengan kata-kata yang tadi mengggema di telinga. Ku pikir bapak yang bertanya padaku tadi yang mengatakan itu. Tapi ternyata bukan. Dan memang bukan. Bapak tadi telah menjauh pergi dariku, menunaikan tugasnya lagi. Lalu siapa? Siapa yang tadi memakiku? Aku mencari, mungkin seseorang itu belum jauh dari sini. Ku itari terminal sampai kesudut-sudutnya. Tapi tak ku temukan. Sedang kata-kata tadi masih terngiang-ngiang di telinga. Seperti lebah yang berdengung. Aku bingung. Dan benar-benar bingung dibuatnya.

Aku tertunduk disalah satu sudut terminal. Aku ambruk. Rasanya kakiku tak mampu lagi menopang raga yang kebingungan. Kembali hujan tangis mengguyurku. Aku menjerit. Tapi tertahan oleh sakit yang melilit ditenggorokannku yang kerontang.

“Kau juga pengecut. kau tak berani menampakkan diri. Kau hanya mengatakan hal basi seperti yang para motivator katakan. Sedang nyatanya, kenyataan tak semudah kata motivator. Kau pengecut! kau pembohong”.

Aku kembali terguguk dalam tangisku. Tak ku peduli orang-orang memperhatikanku. Tapi lama-lama kuperhatikan mereka. Ada yang lain. Aku mendekat ke kursi barisan penumpang menunggu bus datang. Ku tatap mereka satu persatu. Kali ini aku mencoba berjabat tangan dengannya. Tapi aneh.
Tak dapat ku sentuh mereka. Mereka bagai bayangan yang tak bisa ku pegang. Aku tak percaya, dan sekali lagi ku coba. Sama, tetap tak bisa. “Tidak!……..” jeritku bersamaan dengan sinar putih yang menyilaukan mata, membawa ragaku pergi yang entah kemana. Tak dapat ku indra apapun. Sampai tiba ku masuki sebuah kamar. Sepertinya ku kenal. Ya, itu kamarku. Ku lihat seseorang tengah tidur di atas ranjangnya, seperti aku. Ku tengok kembali rupaku dicermin. Tak dapat ku temukan bayangnya seperti biasa saat aku bercermin. Aku semakin bingung.

“ Kembalilah, pergi bukan solusi. Hadapi masalahmu dengan bekal pendewasaan yang kau punya. Jika tak kau bawa bekal itu, jangan takut. Waktu yang kan mengajarimu untuk tahu. Tak ada seorang hambapun yang luput dari ujian-Nya. Percayalah, dia mengujimu karena dia tahu kau mampu untuk menghadapinya. Sebab Dia tak memberimu apa yang melebihi ambang batas kemampuanmu.”

Aku hanya mengangguk. Setelah mengucapkan itu, dia mempersilakanku untuk tidur diranjang yang sama dengan seorang yang ku sebut aku tadi. Akupun tertidur.

Keesokan paginya, aku terbangun. Ku cari sosok yang ku temani tidurnya malam tadi. tapi tak ku temukan. Sampai ku temu cermin yang beriku jawaban. Dan ternyata setelah ku cerna semua, itu hanya mimpi. Hanya mimpi,

by: Hida Koma

AL KISAH TENTANG CINTA DAN WAKTU
AL KISAH TENTANG CINTA DAN WAKTU
Alkisah, di sebuah pulau kecil hiduplah benda-benda
CERPEN KISAH CINTA MENGHARUKAN – SHANEE (Shanee will go on)
CERPEN KISAH CINTA MENGHARUKAN – SHANEE (Shanee will go on)
Cerpen Remaja dengan kisah cinta mengharukan karya
CERPEN CINTA ROMANTIS – PSANGAN SAMPEL CINTAKU ADALAH KAMU
CERPEN CINTA ROMANTIS – PSANGAN SAMPEL CINTAKU ADALAH KAMU
Doni sibuk keluar masuk toko sepatu. Mungkin
Cerpen Cinta Hida Koma – Seujung Kuku Cinta Untuk Zila
Cerpen Cinta Hida Koma – Seujung Kuku Cinta Untuk Zila
Cerpen dengan judul Seujung Kuku Cinta Untuk
Baca Juga×

Top
%d blogger menyukai ini: